Monday, July 20, 2009

Inisiasi Menyusu Dini yang Menakjubkan

http://health.detik.com/read/2009/07/07/143248/1160617/775/inisiasi-menyusu-dini-yang-menakjubkan
Nurul Ulfah - detikHealth

img
(dok Sirensmag)
Jakarta, Bayi yang baru keluar dari rahimnya ibunya kemudian merangkak di dada sang ibu dengan susah payah untuk mencari air minum dari puting ibu merupakan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Siapa pun akan terharu melihat bayi yang baru berumur beberapa menit akhirnya berhasil mendapatkan puting ibu untuk menyusui.

Ya, banyak sekali manfaat yang didapatkan dari kegiatan IMD ini, baik untuk si ibu maupun sang buah hati. Bagi calon ibu yang akan melahirkan, segera rencanakan dan cari dokter yang siap melaksanakan 'Early Initiation Of Breastfeeding' agar bisa melihat momen-momen pertama si bayi yang sungguh menakjubkan.

Dr. Utami Roesli, SpA., IBCLC, FABM yang merupakan pelopor IMD, menekankan betapa pentingnya seorang ibu melakukan IMD demi mengoptimalkan tumbuh kembang anak serta menurunkan angka kematian bayi dan balita.

Melakukan IMD segera setelah bayi lahir (setidaknya 1 jam) dapat menyelamatkan 22% kasus kematian bayi. Meskipun Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara luar, terutama Skandinavia yang sudah melancarkan program tersebut pada tahun 1987, namun pada tahun 2006 program ini mulai dipromosikan dengan gencar di Indonesia oleh Dr. Utami.

"Dahulu, pengertian 'menyusu dini' masih salah dinterpretasikan oleh masyarakat dan kalangan dokter, dimana si bayi dipaksa mendapatkan ASI dari puting ibunya segera setelah melahirkan. Padahal yang benar adalah bayi diberi kesempatan menyusu atau mencari puting susu dengan cara merangkak di dada si ibu," jelasnya disela-sela acara peringatan hari ulang tahun Ikatan Dokter Anak Indonesia ke-55 pada 21 Juni 2009.

Setiap gerakan yang dilakukan bayi sebelum menyusu punya maksudnya dan semua itu sudah dirancang sedemikian rupa oleh yang Maha Kuasa.

"Jika kita ingin melihat keajaiban Tuhan yang paling sederhana dan paling awal dalam perjalanan hidup manusia, perhatikanlah apa yang dilakukan oleh seorang bayi pada saat ia mencari puting susu ibunya", ujar Dr. Utami yang juga merupakan ketua sentra laktasi Indonesia tersebut.

Terdapat 5 tahapan perilaku bayi sebelum menyusu, dimana setiap perilakunya mengandung makna yang sangat dalam.

- Tahap pertama, yaitu 30 menit pertama merupakan tahap istirahat bayi di perut atau dada ibunya, karena segera setelah lahir bayi belum siap untuk minum.

Sekali-kali ia akan melihat ibunya dan menyesuaikan dengan lingkungan. Ajaibnya, kulit ibu dapat berfungsi sebagai thermoregulator thermal synchron, artinya jika si bayi kedinginan, maka kulit ibu akan meningkat suhunya 2 derajat celcius, dan jika si bayi kedinginan, maka akan menurun satu derajat celcius.

- Tahap kedua, bayi akan mengeluarkan suara, gerakan menghisap dan memasukkan tangan ke mulutnya. Gerakan tersebut merupakan upaya si bayi untuk mengenali arah atau sumber puting berdasarkan indera penciumannya.

Bayi akan menjilati punggung tangannya karena bau ketuban yang masih terdapat di tangannya sama dengan bau pada payudara si ibu, sehingga ia akan bergerak ke arah bau tersebut berada.

- Tahap ketiga, sebelum si bayi mulai merangkak ke arah dada ibu, ia akan mengeluarkan air liur dulu. "Itu tandanya ia sudah mengenali bau puting si ibu, dan artinya makanan sudah dekat", ujar dokter anak senior di RS St Carolus Jakarta tersebut.

- Tahap keempat, setelah tahu darimana arah makanannya berasal, bayi pun akan mulai bergerak merangkak dan kakinya akan menekan perut ibu untuk bergerak ke arah payudara. Ternyata pula, hentakan kaki bayi di perut si ibu dapat mengurangi pendarahan di rahim.

- Tahap kelima, dari gerakan bayi adalah menjilat-jilati kulit ibu, menghentak kepala ke dada ibu, menemukan puting, menyentuh dengan tangannya, kemudian mengulum puting susu tersebut.

Ketika si bayi menjilati kulit si ibu, secara tidak langsung ia akan memasukkan bakteri-bakteri yang bermanfaat untuk ususnya, dan ketika ia menghentakkan kepala ke dada ibunya, ia melakukan massage yang akan melancarkan pengeluaran ASI dari payudara si ibu.

Dr. Utami menambahkan, jika si bayi sudah menemukan puting ibunya, biarkan paling tidak satu jam atau lebih sampai proses menyusu awal selesai. Bila dalam 1 jam si bayi belum menemukan puting, dekatkan bayi ke puting tapi jangan memasukkan puting ke mulut bayi. "Beri ia waktu 30 menit atau 1 jam lagi", ujarnya.

Namun serangkaian proses menakjubkan pada awal kehidupan manusia tersebut hanya dapat terjadi jika si ibu maupun bayi sama-sama dalam keadaan stabil, artinya ibu tidak mengalami pendarahan atau bayi tidak berwarna biru.

"Bayi yang memerlukan pengobatan segera setelah lahir serta dipisahkan dari ibunya tidak akan bisa melakukan IMD sama sekali, atau 100% tidak bisa menyusu," tuturnya.

Menurut dokter yang juga kakak kandung almarhum seniman Harry Roesli tersebut, yang paling penting setelah IMD selesai dilakukan adalah melakukan rawat-gabung bayi, artinya ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, dan dalam jangkauan ibu selama 24 jam.

Hal ini menurutnya akan memperkuat ikatan ibu dan anak, serta meningkatkan daya tahan tubuh si bayi. "Seorang bayi yang dipisahkan 6 jam saja dari ibunya, maka hormon stressnya akan meningkat 2 kali lipat karena adanya trauma pemisahan", ungkap dokter yang merekam seluruh proses kelahiran cucunya untuk sosialisasi IMD ke publik.

IMD dan ASI Bikin Anak Cerdas

Studi terbaru menunjukkan kombinasi yang efektif dari IMD dan ASI eksklusif dapat meningkatkan kecerdasan anak, sehingga para ibu pun saat ini mulai tertarik mengaplikasikannya.

"Anak yang diberi ASI lebih pandai dibanding mereka yang tidak diberi ASI. Mereka yang tidak mendapatkan ASI diketahui 15-20% sel-sel otaknya akan mati, sehingga mengurangi tingkat kecerdasannya," kata Dr. Utami.

Penelitian-penelitian yang dilakukan di Selandia Baru, Inggris, Denmark dan Amerika Serikat menjadi acuan dari Dr Utami, dokter yang selama ini gencar mempromosikan pentingnya IMD dan telah banyak mendapatkan penghargaan dalam pengembangan program ASI eksklusif tersebut.

Salah satu penelitian di Denmark menyebutkan bahwa terdapat korelasi antara lamanya pemberian ASI dengan tingkat IQ seseorang. Penelitian yang dilakukan terhadap 3.253 orang di Denmark tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang disusui kurang dari 1 bulan, tingkat IQ-nya 5 poin lebih rendah dari yag disusui setidaknya 7-9 bulan.

Beberapa fakta penelitian lainnya pun dibeberkan oleh Dr. Utami, diantaranya mereka yang diberi IMD dan ASI eksklusif akan 6-8 kali lebih jarang menderita kanker anak (leukemia, limphositik, neuroblastoma, lymphoma maligna); 16,7 kali lebih jarang terkena pneumonia, 16 kali lebih jarang dirawat di rumah sakit dan 40-50% risiko asma berkurang.

Adanya kolostrum pada ASI ibu yang baru melahirkan diduga merupakan faktor penyebab seorang anak dapat memiliki daya tahan tubuh dan kecerdasan yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mendapatkan ASI. Seorang bayi yang baru lahir belum memiliki organ tubuh yang sempurna, salah satunya ususnya yang masih belum merekat dengan baik.

"Kolostrum yang masuk ke dalam tubuh bayi akan menutup lubang-lubang pada sel-sel usus bayi, sehingga ASI yang masuk tidak akan bercampur dengan darah yang mungkin dapat menyebabkan alergen. Selain itu, kolostrum juga dapat merangsang growth hormon yang baik untuk tumbuh kembang bayi," jelas dokter lulusan FK UNPAD Bandung tersebut.

Tapi lanjut Dr. Utami, bukan hanya mendapatkan 1-2 tetes kolostrum yang paling penting, melainkan kontak dengan ibunyalah yang lebih utama. "Kolostrum memang penting untuk sistem imun bayi, namun yang tak kalah penting adalah the whole skin to skin contact-nya," ujarnya.

Bahkan American Academic Breastfeeding Medicine menyatakan dalam 48 jam pertama kehidupan seorang bayi, sebenarnya tidak dibutuhkan cairan apapun. "Jadi tidak masalah jika ASI belum bisa keluar setelah melahirkan, karena kontak kulit dengan si ibu jauh lebih penting," katanya.

Dr. Utami menegaskan jika seorang ibu ingin merencanakan IMD dan ASI eksklusif, hal tersebut harus dibicarakan dengan suami dan juga dokter sebelum kelahiran, karena belum semua rumah sakit mempraktekkan IMD.

Bahkan ada kecenderungan sekarang ini rumah sakit membiarkan ibu terpisah dari anaknya, dimana bidan-bidan yang menangani kelahiran bayi justru menyarankan penggunaan susu formula hanya untuk mendapatkan keuntungan semata. "Mereka-mereka itulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mendzalimi ciptaan Tuhan," ucapnya.

Bayi yang sehat adalah bayi yang dekat dengan ibunya, tidak dipisahkan oleh kamar yang berbeda. "Tidak ada namanya merawat separo-separo. Kalau bisa, si ibu lah yang memandikan dan menyelimuti si bayi," tegas dokter yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah cukup senior.

Anak adalah harapan bagi setiap orang tuanya, oleh karena itu berikanlah makanan standar emas untuk buah hati Anda jika ingin menghasilkan anak generasi cerdas dan berkualitas. Makanan emas itu mulai dari IMD, ASI eksklusif 6 bulan, dan ASI hingga 2 tahun serta makanan pendamping ASI.

Tidak hanya ibu yang berperan penting dalam hal menyusui, namun sang ayah juga perlu mendampingi dengan penuh kasih sayang. "Bahkan di luar negeri, cuti menyusui pun diberikan untuk seorang ayah," ujarnya.(fah/ir)

Wednesday, May 9, 2007

Pria langsung tidur setelah bercinta

Pria langsung tidur setelah bercinta
Jangan buru-buru tersinggung dengan sikapnya itu, karena tidak ada kaitannya dengan Anda, melainkan karena pengaruh hormon. Pada pria, orgasme atau ejakulasi akan memicu lepasnya prolactin, hormon yang juga diproduksi wanita saat memberikan ASI. Prolactin ini akan membuat seseorang merasa ngantuk, seperti halnya bayi yang sering tertidur saat disusui.

Thursday, May 3, 2007

puisi ini ditulis dengan hati (dr wrm)

Semangkuk Indomie Pada Pukul Satu Pagi

Pengirim: Agnes Tri Harjaningrum

Duduklah saja Sayang, katamu dini hari tadi
Kubuatkan hadiah spesial di hari jadimu ini
Bukankah tadi perut hanya kita isi dengan roti
Dan kau pun beraksi persis seperti koki
Cemplung sana cemplung sini
Potong sana potong sini
Dan tarraaa! Hadiah untukku pun tersaji!

Duduklah saja Sayang, katamu dini hari tadi
Kubuatkan hadiah spesial di hari jadimu ini
Bukankah tadi perut hanya kita isi dengan roti
Dan kau pun beraksi persis seperti koki
Cemplung sana cemplung sini
Potong sana potong sini
Dan tarraaa! Hadiah untukku pun tersaji!

Semangkuk Indomie pada pukul satu pagi
Sungguh, ini kado yang paling membuatku geli!
Tapi bukan hanya geli, aku juga happy
Meja makan kita sesesak tumpukan jerami
Mangkuk-mangkuk kita tak kebagian posisi
Tapi kau tak pernah mengambil hati
Ah Cinta, kau ini selalu membuatku bertanya lagi
Terbuat dari apa sesungguhnya hatimu ini?

Belum lagi bila kulirik tumpukan lain di ruang dapur
Ugh, rasanya ingin kugembok saja pintu dapur itu seumur-umur
Belakangan ini dapurku kerap ngebul
Pamali nolak rejeki, begitu kan kata orang
Padahal deadline pekerjaan mengejar-ngejar
Padahal amanah lain baru saja kuemban
Dan anak-anakku, mereka pun butuh belaian
Duh Tuhan, aku memang senang
Tapi ritme hidupku lagi-lagi seperti komedi putar

Kau ingat kan masa-masa sulit itu
Dalam hitungan hari baru saja ia berlalu
Isak ku kembali kau dengar
Amarah pun kembali ku umbar
Anak-anakku, entah apa kabar
Istri macam apa aku ini, kau butuh istri baru barangkali
Begitu ucapku, lantaran PMS, depresi, feeling guilty, dan entah apa lagi
Kau seperti dejavu bukan?

Aku lihat lelahmu yang hampir meremukkan sendi-sendimu
Aku lihat kesalmu yang dengan penuh juang kau perangi
Aku dengar degup jantungmu ketika tahun terakhir studi membayangimu
Aku dengar desah nafasmu ketika timbunan deadline seolah akan menerkammu

Tapi mengapa, ketika dejavu itu bukan lagi dejavu
ketika ia nyata membentang di depan matamu
Kau masih saja bisa memberikan bahumu untukku
Kau masih saja bisa meniadakan dirimu
Kau masih saja bisa menjelma peri penolongku
Ah Cinta, terbuat dari apa sesungguhnya hatimu?

Hiks…maafkan aku Cinta, tanganku hanya dua,
dan aku selalu kalah melawan pembagian waktu
Tapi kau sangat tahu kan Cinta,
Aku bisa gila kalau hidupku hanya kuisi dengan termangu saja
Dan kau juga tahu kan Cinta,
Ide-ide yang menari di kepalaku lebih membuat hidupku berseri
lebih menarik ketimbang tarian piring dan bumbu dapur warna-warni
Maafkan aku, aku bukan istri sholehah ya Cinta?

Dan jawabmu seringkali membuatku tergugu
Memasak, menyetrika dan mencuci itu bukan kewajiban istri
Semua itu bisa kita bagi, ucapmu
Ah Cinta, itu katamu, tapi apa kata dunia, kesahku
Mengapa tak kau didik saja aku menjadi istri sholehah itu Cinta?
Aku tak ingin mendidik, aku hanya ingin menggali potensimu, jawabmu
Tapi Cinta, lihat akibatnya, komedi putar itu bergerak kencang lagi
Ripple, itu namanya, sungguh wajar untuk sebuah perubahan, jawabmu lagi
Ah Cinta… aku hanya bisa termangu dan kembali tergugu


Andai kau tahu betapa sempurna engkau mengajari aku
Dengan caramu, dengan kasihmu, dengan ucapmu, dengan hatimu
Hadiah itu, semangkuk indomie pada pukul satu pagi itu
Menjadi begitu bermakna, tak tergantikan dengan emas permata
Semangkuk indomie pada pukul satu pagi
Kado yang membuatku geli, tapi juga membuatku menangis lagi
Terimakasihku tak kan pernah cukup Cinta…



Buat Cintaku seorang…



Groningen

19 Maret 2007



Saat musim semi bersalju

Monday, April 16, 2007

Kecerdasan Akademik vs Kecerdasan Emosional

Oleh : Eva Tio Pitna

Active Image

Mana lebih penting, kecerdasan akademik atau kecerdasan emosional? Sebagian besar orang tua pasti akan sangat bangga jika anak-anak mereka cerdas dalam bidang akademik. 'Anakku matematikanya 9 lho di raport", kata seorang Ibu atau "Anakku sudah menguasai dan lancar berkomunikasi dalam Bahasa Inggris sejak kecil, kata Bunda yang lain atau "Wah, kalau anakku, main pianonya sudah top deh," seorang ibu tak mau kalah.

Tapi pernahkah kita dengar seorang ibu yang bangga jika anaknya memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan interpersonal? Hmm rasanya sih, 3 kecerdasan yang terakhir itu, hampir bisa dipastikan tidak masuk hitungan dan sudah pasti tidak ada nilainya di raport atau di sekolah.

Anak-anak dengan nilai akademik tinggi, selalu mendapat perhatian dan kasih sayang lebih dari para orang tuanya dan hampir bisa dipastikan selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan jika ada pertemuan keluarga atau lepas kangen dengan teman-teman lama dan membahas soal anak.

Sangat membanggakan jika menceritakan anak-anak yang berhasil menjadi dokter, insinyur, ahli kimia, biologi, dsb daripada anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional. Mengapa? Pastinya gengsi lebih meningkat dong, dan karena anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional tidak pernah dianggap dan tidak masuk hitungan, bahkan di raport pun tidak pernah ada nilai untuk kecerdasan emosional.

Banyak orang tua yang merasa rendah diri, ketika anaknya tidak masuk ranking sepuluh besar di sekolahnya. Tapi, para orang tua tidak merasa rendah diri ketika anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki kepribadian egois, mau menang sendiri, sensitif, sombong, suka menipu dan tidak biasa bergaul.

Padahal disadari atau tidak, di setiap penerimaan test pegawai, justru yang lebih banyak diterima adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan akademik, masuk dalam golongan biasa-biasa aja.

Saudaraku pernah cerita, dia yang kemampuan akademiknya biasa-biasa aja, sempat tidak percaya diri pada saat harus bersaing dengan salah satu temannya yang prestasi akademiknya bisa dibilang luar biasa, tapi akhirnya mereka diterima di satu perusahaan yang sama. Pada akhirnya malah saudaraku karirnya lebih menanjak daripada temannya yang pintar itu, karena ternyata temannya yang luar biasa pintar itu, hanya pintar text book, pintar akademik, tapi tidak luwes dalam pergaulan. Sedangkan kita semua tahu, tak cukup dengan modal pintar saja kalau kita ingin karir kita gemilang kan? Tapi bukan berarti lalu jadi penjilat, sikut sana-sini lho ya, ini sih sudah pasti tidak cerdas secara emosional :D.

Kasus lain yang pernah aku baca di sebuah majalah wanita, tentang seorang anak yang ditinggal ART-nya pulang kampung, menulis surat kepada mbaknya, isinya permohonan maaf kalau selama ini si anak sering merepotkan si mbak. Buatku pribadi, anak yang bisa seperti ini adalah luar biasa! Anak yang pintar akademik itu bicara hal yang cukup mudah, anak tekun belajar atau memang ada bakat atau ada turunan pintar, biasanya si anak akan pintar juga. Tapi kepintaran emosional tidak ada sekolahnya. Bahkan (maaf) lulusan pesantren atau sekolah teologi atau yang mendasarkan pada tiang agamapun tidak menjamin lulusannya akan memiliki kecerdasan emosional.

Tak membuat terharu dan banggakah, jika suatu hari, guru sekolah bercerita kepada kita, orang tuanya, kalau anak kita senang membantu teman-temannya di sekolah atau mendamaikan dua orang temannya yang bertikai atau lebih memilih membagikan apa yang ia punya untuk temannya yang kurang mampu?

Benarkah hanya kecerdasan akademik anak, cucu, dan ponakan yang membuat bangga kita sebagai orang tua, kakek-nenek,om-tantenya ?

Sudah pasti aku sebagai Bunda dan pasti orang tua-orang tua lain pasti akan sangat bersyukur jika anaknya memiliki kecerdasan akademik plus punya kecerdasan emosional juga kan?

Nah ini PR besar buat buat para orang tua lainnya. Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum yuk kita coba mulai dari anak kita dan saat ini juga (ETP/WRM)

ini utk ngingati gw kl punya anak

Monday, April 2, 2007

SEBELUM ORGAN BAYI TUMBUH SEMPURNA

Kenali kelainan-kelainan bayi baru lahir dengan mengetahui bagaimana organ tubuhnya berkembang.

Kita mungkin pernah mendengar bahwa bayi A menderita kelainan sejak lahir. Perlu diketahui, sebenarnya sebelum dan sesudah lahir, banyak sekali organ tubuh bayi yang belum berfungsi secara sempurna. Namun, seiring dengan waktu, organ-organ tersebut akan berfungsi normal.

Hanya saja, jika organ tersebut tak berfungsi normal sesuai waktunya biasanya akan timbul masalah. Simak penjelasan dr. Rulina Suradi, Sp.A.(K), dari Subbagian Neonatologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta berikut ini :

Jantung, Peredaran Darah, Dan Paru-Paru

Jantung, imbuh Rulina, merupakan organ tubuh yang besarnya hanya sekepalan tangan. Terletak di rongga dada (toraks) sebelah kiri. Benda ini terdiri atas otot-otot kuat yang saling bersambung, sehingga membentuk jaringan.

Jantung memiliki empat ruangan dua di sebelah kiri dan dua di kanan dengan fungsi berbeda. Fungsi intinya adalah mengalirkan darah ke seluruh tubuh, dan setelah darah mencapai ujung, secara otomatis akan kembali ke sumber semula. Dua ruangan di kiri, sebelah atas disebut atrium (serambi) kiri, sedang bagian bawah dinamai ventricle (bilik) kiri. Di ruangan kanan juga sama, yaitu atrium dan ventricle kanan.

Kondisi jantung bayi saat masih dalam kandungan berbeda dengan saat lahir. Ketika masih dalam kandungan, jantung bayi belum sepenuhnya berfungsi secara normal. Peredaran darah dari jantung kiri bisa langsung melewati jantung kanan. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada sekat yang memisahkannya. Akibatnya, darah bersih dapat bercampur dengan darah kotor. Namun secara medis, kondisi ini tak jadi masalah, karena kala dalam kandungan, janin menerima pasokan darah dan oksigen dari sang ibu lewat plasenta. Barulah setelah beberapa jam bayi dilahirkan, saluran tersebut secara otomatis langsung menutup. "Lamanya, kurang lebih 4-8 jam," ungkap Rulina.

"Saat lahir, paru-paru bayi juga mulai berfungsi, sehingga menimbulkan tekanan udara yang kuat di sekitarnya. Tekanan tersebut mengakibatkan saluran yang menghubungkan bilik kiri dan kanan jantung menutup."

Namun, ia mengingatkan, jika saluran peredaran darah tersebut tidak menutup lebih dari 24 jam, maka orang tua harus mewaspadainya karena hal itu menandakan jantung si bayi mengalami kebocoran. Kelainan ini disebabkan posisi sekat pemisah bilik atau serambi jantung kiri dan kanan belum atau tidak tertutup sempurna. Akibatnya, jantung tidak berfungsi dengan baik. Padahal, jantunglah yang memompa darah ke seluruh tubuh.

Dari bilik kiri jantung, darah bersih berwarna merah segar yang mengandung 96% zat asam dialirkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah nadi. Saat kembali ke bilik kanan, darah tidak lagi bersih dan warnanya berubah menjadi lebih tua. Pada saat itu kadar zat asamnya tinggal sekitar 60%. Selanjutnya, darah kotor ini dipompa dari bilik kanan ke paru-paru untuk mengambil zat asam sehingga menjadi bersih kembali. Begitulah aliran darah pada tubuh berlangsung tanpa henti sepanjang hidup kita.

Nah, bila sekat pemisah tidak tertutup sempurna, tentu saja darah kotor akan bercampur dengan darah bersih. Akibatnya kerja jantung akan terganggu. Hal ini ditandai dengan sering keluarnya tanda-tanda biru, khususnya pada kuku jari tangan dan bibir bayi. Selain itu, badannya kurus, pucat, dan tidak bersemangat. Aktivitas pun terbatas, bayi akan mudah capai dan sering menderita demam.

Cara mengatasinya bermacam-macam, tergantung faktor penyebabnya. Ada yang dengan obat-obatan saja sudah cukup, tapi ada juga yang harus ditangani lewat tindakan operasi. "Penting diperhatikan, tidak semua gangguan jantung ini harus ditangani langsung dengan cara menutup saluran yang bocor." Masalahnya, dalam situasi dan kondisi tertentu, penutupan saluran tersebut malah bisa berdampak fatal, yaitu meninggal dunia. Pada mereka, biasanya diberikan obat-obatan terlebih dahulu, setelah itu barulah dilakukan operasi.

Jadi, kapan tindakan operasi dilakukan, sepenuhnya harus dengan pertimbangan dokter. Semakin besar usia sang bayi, semakin besar ukuran jantungnya. Dengan begitu operasi pun lebih mudah dilakukan.

Tingkat kesulitan pembedahan penyakit jantung bawaan sangat tergantung pada letak dan parah tidaknya kelainan itu. Ada yang cukup dilakukan satu kali koreksi, ada yang sampai beberapa kali. Selama dilakukan pembedahan jantung terbuka diperlukan mesin jantung-paru yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru untuk sementara.

Ubun-Ubun

Ubun-ubun atau yang dalam istilah kedokterannya fontanela merupakan bagian kecil dari kepala bayi. Bentuknya sangat lunak. Itu sebab, orang tua kerap tidak tega menyentuh atau merawatnya. Padahal, ubun-ubun sebenarnya tak selunak yang kita bayangkan karena ia dilapisi membran (selaput tipis jaringan) yang cukup kuat.

Perlu diketahui, kepala bayi dibentuk oleh beberapa lempeng tulang, yaitu 1 buah tulang di bagian belakang (tulang oksipital), 2 buah tulang di kanan dan kiri (tulang parietal), dan 2 buah tulang di depan (tulang frontal). Di antara tulang-tulang yang belum bersambung itu terdapat celah yang disebut sutura. Sutura-sutura ini ada yang membujur dan ada pula yang melintang. Nah, titik silang celah-celah itulah yang membentuk ubun-ubun depan (besar) dan ubun-ubun belakang (kecil).

Sebenarnya, hingga usia beberapa bulan setelah dilahirkan, tulang-tulang kepala bayi belum menyambung satu sama lain. Namun, letaknya telah tersusun berdampingan secara rapi. Ubun-ubun yang tak segera menutup inilah yang kerap mengkhawatirkan para orang tua. Padahal, dengan begitu otak bayi justru bisa berkembang normal.

Ubun-ubun dan sutura-sutura ini normalnya menutup antara usia 6-20 bulan. Secara kasat mata, akibat proses penutupan tulang tengkorak yang kelewat dini ini bisa dilihat melalui bentuk kepala yang tak normal. Ini terjadi karena pertumbuhan kepala cenderung mengarah ke tulang yang suturanya menutup belakangan. Contohnya, kalau sutura bagian depan sudah menutup lebih dulu, pertumbuhan kepala akan lebih mengarah ke belakang, dan akibatnya kepala jadi panjul.

Penyebab ubun-ubun cepat menutup biasanya adalah kelainan bawaan, adanya infeksi selama kehamilan, atau adanya gangguan perkembangan jaringan otak dan kelainan tulang seperti osteopetrosis (pertumbuhan dan kepadatan tulang yang berlebihan).

Sudah pasti, ubun-ubun yang menutup terlalu cepat akan menghambat perkembangan otak bayi dan menimbulkan gangguan. Dengan kata lain, sel-sel otak yang seharusnya berkembang malah tertahan oleh tulang tengkoraknya sendiri. Biasanya, gangguan yang muncul berupa cerebral palsy atau kelumpuhan yang sifatnya kaku.

Terlebih bila proses penutupan tulang tengkorak ini berlangsung sejak ia baru lahir atau berada di kandungan, proses keterhambatan perkembangan otaknya tentu lebih lama sehingga gangguan yang timbul akan lebih banyak dan berat. Artinya, manifestasi gangguan tumbuh kembang pada bayi yang bersangkutan bisa berbeda-beda, tergantung bagian otak sebelah mana yang perkembangannya terhambat, dan kapan terjadinya proses penghambatan atau penutupan itu.

Cara mengatasinya adalah dengan operasi melepas sambungan yang menutup terlalu cepat. Dengan begitu, diharapkan otaknya bisa terus tumbuh dan berkembang.

Usus Besar

Bayi baru lahir umumnya sudah bisa BAB (Buang Air Besar) dalam waktu 24 jam setelah persalinan. Feses di hari pertama dan kedua disebut mekonium yang berwarna gelap atau hitam. Tak heran bila ada yang menyebutnya tahi gagak. Pada hari ketiga, feses atau tinjanya mungkin sudah bercampur dengan susu atau kotoran peralihan (campuran tahi gagak dan susu). Perlu diketahui, bayi yang diberi ASI, biasanya pada hari-hari pertama atau minggu-minggu pertama akan lebih sering buang air besar, bisa sampai 6 kali lebih.

Kalau dalam waktu lebih dari 48 jam mekoniumnya tidak keluar-keluar, biasanya bayi diduga menderita hirschprung. Kelainan hirschsprung terjadi pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga ke bagian usus di atasnya, termasuk ganglion parasimpatis yang membuat usus bisa bergerak melebar dan menyempit. "Nah, pada bayi yang punya kelainan hirschsprung, persarafan ini tak ada sama sekali atau kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali. Ada-tidaknya persarafan inilah yang menentukan derajat ringan-beratnya kelainan hirschsprung," urai Rulina.

Akibat selanjutnya, kotoran akan menumpuk dan menyumbat usus di bagian bawah, hingga bayi tak bisa BAB. Penumpukan kotoran di usus besar ini akan diteruskan dengan pembusukan. Jika terjadinya sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan tanpa ketahuan, di dalam usus besar akan berkembang banyak kuman. Pada akhirnya timbullah radang usus.

Bisa juga, proses pembusukan ini kemudian menghasilkan cairan yang akan merembes keluar tanpa bisa ditahan oleh anus karena tak ada persarafan tadi. "Mungkin saja orang tua ataupun dokter tak menyadari adanya kelainan ini, dianggapnya si bayi mengalami mencret atau diare biasa."

Untuk mengatasinya, pada bayi akan dilakukan pemeriksaan barium enema lewat anus. Dengan begitu, bisa kelihatan seberapa sempit ususnya dan seberapa panjang kerusakan yang terjadi. Bagian usus yang tidak memiliki persarafan akan dibuang lewat operasi pertama. Berikutnya, operasi dilakukan lagi; kalau ususnya bisa ditarik ke bawah, ia akan langsung disambung ke anus. Kalau ternyata ususnya belum bisa ditarik, maka dibuatlah lubang di dinding perut (kolostomi) untuk saluran BAB.

Nanti, kalau ususnya sudah cukup panjang, operasi bisa dilakukan lagi untuk menarik dan menyambung ususnya langsung ke anus. Menunggunya bisa sampai 3 bulan, tergantung kondisi anak yang bersangkutan. Selama itu pun, kondisinya tetap harus dikontrol, dua minggu sekali atau sebulan sekali.

Menurut Rulina, setelah dibuang dan diperbaiki kelainannya, BAB anak biasanya akan normal kembali. Kecuali jika kelainannya parah sampai usus besarnya harus dibuang semua. Masalah tidak akan berhenti sampai di situ.

Bilirubin/Kuning Pada Bayi

Timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit akan membuat kulit bayi terlihat kuning. Perlu diketahui, pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Sel darah merah inilah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke janin melalui plasenta. Nah, sesudah ia lahir, paru-parunya berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan.

Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini bermacam-macam sifatnya, ada yang indirect, direct, dan bebas. Yang indirect atau belum diolah adalah bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkutnya. Ia akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin direct. Bilirubin direct ini lalu disimpan di kantong empedu. Namun demikian, kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Bagian yang tidak terangkut inilah yang disebut bilirubin bebas.

Bilirubin bebas bisa menyebar ke mana-mana ke seluruh tubuh. Jenis inilah yang dapat menimbulkan bahaya, terutama kalau sampai masuk ke otak, karena tak bisa dilepas lagi. Akibatnya, akan muncul gangguan yang disebut kern ikterus atau timbunan bilirubin di dasar otak.

Namun, kalau bayi sampai kuning, kita tidak perlu keburu khawatir. Kasus ini sebenarnya terbagi atas kuning faali (fisiologis) dan kuning patologis (penyakit). Yang bersifat patologis dapat mengganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. Sementara yang faali adalah sesuatu yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun bersifat faali, keberadaannya tetap perlu diwaspadai, karena mungkin saja dilatarbelakangi masalah patologis.

Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang nantinya berangsur-angsur hilang sendiri. Di dalam ASI memang ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Jadi, kuning ini hanyalah gejala biasa.

Kendati demikian, orang tua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. Sebab, saat itu kadar bilirubin bebas bisa meningkat.

Inilah sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai.

1. Kuning muncul cepat sekali. Misal, pagi lahir, sore sudah kuning.

2. Peningkatan kadar kuning berlangsung sangat cepat.

3. Kuning berlangsung lama atau proses menghilangnya sangat lambat, misalnya sesudah 2 minggu kuningnya masih ada.

"Jika salah satu atau semua hal itu terjadi pada si kecil, segera bawa ia dokter!" pesan Rulina. "Mendeteksi bayi kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. Lihat di bagian putih matanya. Kalau memang kuning, warna itu akan terlihat jelas di sana."

Saeful Imam. Foto: Iman Dharma S./nakita

Wednesday, March 21, 2007

Mendengar atau Terdengar ?

Pengirim: Eva Tio Pitna (http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=1041&Itemid=2)

Tuesday, 20 March 2007

Anak : "Bunda, aku nggak mau sekolah lagi. Di sekolah banyak anak nakal Bunda…, aku sering diganggu. Pokoknya aku gak mau sekolah lagi, aku takut Bunda……" (sambil menangis)

Bunda : (Bundanya sambil matanya menonton televisi yang menayangkan sinetron favorit). "Masa sih? Anak Bunda gak boleh takut dong, kalau Cuma diganggu aja sih gak apa-apa, gak perlu takut. Pokoknya besok harus tetap ke sekolah seperti biasa ya. Ya sudah sana gih, Bunda lagi nonton TV nih, nanti kelewat deh ceritanya...! Kamu sih ada-ada aja, gitu aja takut...!

Problem Komunikasi Dalam Keluarga

Situasi di atas sepertinya tidak asing lagi di jaman ini, di mana setiap orang, termasuk orang tua, seolah membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Komunikasi keluarga menjadi “barang mahal dan barang langka” karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing.

Akhirnya komunikasi yang tercipta di dalam keluarga menjadi komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan). Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai t eman ayah punya pekerjaan baru, si Pak Tiar pergi ke luar negeri, tingkat bunga bank, kurs dollar, situasi politik, kerusuhan yang terjadi di luar daerah, dan lain sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak-anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru yang beredar di kalangan teman-teman mereka.

Dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial dan sempitnya “waktu bersama”, membuat hubungan antara orang tua – anak semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain.

Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti “tidak ada apa-apa” dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu.

Seringkali orang tua lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak mereka.

Seni Mendengarkan

Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks : bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Seni mendengarkan membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi / yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal.

Bagaimana Cara Mendengarkan Yang Baik ?

Di awal artikel ini pembaca dapat menarik gambaran bagaimana suasana hati sang anak dan apa yang diharapkannya ketika ia mencoba “berkomunikasi” dengan sang ibu; dan bagaimana keadaan “hati” anak setelah itu? Kejadian tersebut tampaknya sangat umum terjadi di mana-mana, di hampir setiap keluarga. Memang tidak ada orang tua sempurna, karena setiap orang tua memiliki masalahnya masing-masing hingga seringkali memblokir hubungan positif yang seharusnya terjalin antara mereka dengan anak-anak. Tapi bukan berarti hal itu dapat selalu dimaklumi, bukan? Bagaimanapun setiap kita para orang tua perlu diingatkan kembali bagaimana cara “mendengarkan” anak kita.

  1. Fokuskan perhatian pada anak

    Pada saat anak mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian sepenuhnya pada ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan perhatian sejenak dari film atau sinetron yang sedang ditonton, majalah, koran, atau dari pekerjaan yang sedang dihadapi. Tataplah langsung di matanya sambil memberi kesan bahwa kita benar-benar siap memperhatikan ceritanya, dan mendorongnya untuk bercerita.
  2. Re-statement, mengulangi cerita anak untuk menyamakan pengertian

    Tahanlah diri untuk tidak menginterupsi ceritanya sampai anak selesai bercerita. Ketika anak selesai bercerita, cobalah memberikan kesimpulan berdasarkan hasil tangkapan kita terhadap ceritanya. Pola ini, memberikan feedback bagi orang tua dan anak, apakah kita benar-benar telah memahami apa yang diceritakan atau apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh anak.
  3. Menggali perasaan dan pendapat anak akan masalah yang sedang dihadapi

    Kita boleh bertanya pada mereka : “bagaimana perasaan adek, waktu itu....”; cara ini jauh lebih baik ketimbang menjatuhkan penilaian subyektif atas diri mereka : “ ah, kamu pasti takut! Kamu kan penakut....” atau “ah, paling kamu menangis...kan kamu cengeng...” atau “kamu nggak menangis, kan? Anak mama papa pemberani, tentu tidak pernah menangis!”...Penilaian tersebut malah membuat anak frustrasi karena mereka mengharap orang tua bisa mengerti perasaan mereka, bukan menilai sikap dan perasaan mereka.

    Selain itu, penilaian subyektif orang tua yang datang terlalu cepat, bisa membuat anak menarik diri untuk tidak lebih lanjut menceritakan perasaan yang sebenarnya, karena orang tua sudah punya anggapan tertentu. Misal, anak itu se benarnya takut ketika berhadapan dengan teman sekolah yang lebih besar badannya dan suka mengganggunya – namun urung bercerita karena orang tua sudah memberi label pada sang anak sebagai “anak mama-papa pasti pemberani”. Menceritakan perasaan dan kejadian yang sesungguhnya, hanya akan membuat dirinya dimarahi atau malu karena dianggap lemah.
  4. Bantu anak mendefinisikan perasaan

    Mendengarkan sepenuhnya cerita pengalaman anak, baik itu menyedihkan dan menyenangkan, membuat kita berdua (dengan anak) dapat berbagi rasa dan anak pun akan merasa orang tua menghargainya. Anak akan biasa bersikap terbuka karena yakin orang tua pasti bersedia mendengarkan mereka.

    Jika anak masih sulit mengidentifikasi perasaan mereka, bantulah dengan mendengarkan cerita mereka sungguh-sungguh, dan melontarkan kesan seperti “Wah..adek sepertinya sedih sekali”..atau “Kamu kelihatan sangat marah”...atau “adek sepertinya sedang bosan?”. Anak akan sangat lega ketika orang tua bisa menangkap perasaan mereka. Interaksi demikian, melatih anak mengidentifikasikan perasaan mereka secara tepat.
  5. Bertanya

    Hindari sikap memaksakan pendapat, cara, penilaian orang tua; alangkah lebih baik jika orang tua membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, teman yang dihadapi, perasaan yang mereka rasakan serta sikap - tindakan yang harus mereka lakukan sebagai pemecahannya.
  6. Mendorong semangat anak untuk bercerita

    Hanya dengan memberi respon “Ooo....O ya?...Wow!...” sudah menjadi stimulasi bagi mereka untuk makin giat bercerita.Pola ini dapat membuat anak tenang dan nyaman karena merasa orang tua memahami apa yang mereka ungkapkan.
  7. Mendorong anak mengambil keputusan yang tepat

    Jika orang tua ingin membantu anak menghadapi masalahnya, sebaiknya kita tidak mengambil alih keputusan (“ya sudah, besok kamu tidak usah masuk sekolah”) atau tindakan (“biar mama yang hadapi si boy teman mu yang nakal...biar mama si boy tahu apa yang anaknya lakukan!). Sebaliknya, hadirkan beberapa alternatif yang membuat mereka berpikir dan memilih manakah solusi terbaik sambil membicarakan akibat-akibat yang bisa dirasakan baik oleh anak maupun oleh orang lain.
  8. Menunggu redanya emosi anak dan mengajak berpikir positif

    Jika anak masih diliputi emosi yang memuncak hingga membuatnya sulit berbicara, orang tua jangan memaksakan anak untuk segera bicara. Kita tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita pun makin tidak sabar untuk tidak memberikan opini kita padanya. Konflik seringkali terjadi dan ini menyebabkan memburuknya hubungan orang tua anak.

    Berikan waktu untuk menyendiri sampai intensitas perasaannya mereda. Ketika emosinya mereda, anak akan lebih siap untuk diajak bicara. Sekali lagi, berusahalah untuk tidak memberikan opini kita pribadi, baik terhadap pilihan sikapnya, emosinya, dan tindakannya.Tanyakan pemikiran mereka terhadap masalah ini dan bagaimana kira-kira sikap yang sebaiknya mereka lakukan di kemudian hari. Sikap ini tidak saja menghindarkan anak dari perasaan dihakimi, namun juga membantu mereka lebih memahami kejadian / peristiwa itu secara obyektif serta menemukan nilai atau pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian itu.

Apa manfaat dari mendengarkan?

Bagi seorang anak, komunikasi bukan hanya bertujuan untuk membuat orang dewas a atau orang lain mengetahui dan memenuhi kebutuhannya. Dari komunikasi itu lah, anak dapat menarik kesimpulan, bagaimana orang dewasa memandang dirinya; dan dari kesan ini lah seorang anak membangun rasa percaya diri dan sense of self.

Anak akan merasa dihargai, merasa percaya diri dan mengembangkan penilaian positif terhadap dirinya, ketika orang tua menaruh perhatian tidak hanya pada ceritanya, tapi juga pada pendapat, keyakinan, kesimpulan, ide-ide, perasaan, bahkan ketika pendapat tersebut tidak sesuai dengan pendapat orang tua. Sikap orang tua yang “mendengarkan” anak, membuat anak berani membuat perbedaan dan menjadi berbeda, tanpa takut dihukum, dilecehkan atau ditertawakan. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan keberanian dan keinginan anak, untuk menjadi diri sendiri apa adanya.

Dari tanggapan-tanggapan orang tua, anak akan belajar mengenal banyak informasi dan pengetahuan, mendengar sesuatu yang berbeda dari yang dipikirkannya selama ini, melihat alternatif yang lain, menilai pendapat dan tindakannya sendiri, menilai posisi dirinya di mata orang lain, dan menarik kesimpulan apa yang harus dilakukan olehnya. Proses saling mendengarkan dan didengarkan, mengasah daya kritis dan kreativitas berpikir anak karena ketika antara anak dengan orang tua terdapat jalur 2 arah yang terbuka, maka terbuka pula akses informasi, pengetahuan, perasaan, pemikiran dan pengalaman dari kedua belah pihak. Satu sama lain, saling belajar dan saling memperkaya, saling mengenal dan semakin memahami.

Proses komunikasi antara orang tua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Lama kelamaan, semakin anak terlatih dalam mengenali emosi, tumbuh keyakinan dan sense of control terhadap perasaannya sendiri (lebih mudah mengendalikan sesuatu yang telah diketahui). Misal, jika anak sudah tahu bagaimana rasanya marah, sedih, kecewa, takut, kesepian, dsb, maka akan lebih mudah bagi orang tua memberikan alternatif-alternatif cara menghadapi dan menyelesaikannya.

Mendengarkan anak secara sungguh-sungguh , membuat anak percaya pada orangtua. Hubungan mutual trust, ini membuat anak merasa lebih nyaman berada bersama orang tua, lebih memilih ‘curhat dengan orang tua dan siap menjadi “partner” ketika orang tua yang giliran butuh didengarkan.

Evaluasi Diri

Mendengarkan dan didengarkan, adalah kunci hubungan orang tua-anak yang sangat bermanfaat, baik untuk pengembangkan kematangan emosional, kepandaian intelektual, kemampuan membina kehidupan sosial yang baik serta penanaman nilai prinsip moral yang baik pada anak. Dengan mendengar dan didengar, jalur komunikasi 2 arah terbuka lebar antara orang tua – anak, memungkinkan keduanya saling mengerti dan membuat orang tua dapat memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak.

Namun sebaliknya, jika kata-kata yang diucapkan anak hanya sekedar “terdengar” di telinga kita, akan hilang begitu saja terbawa angin dan tidak memberikan makna serta kontribusi apapun dalam proses pertumbuhan anak. Nah, apakah kita sebagai orang tua, tega mengorbankan kualitas perkembangan dan tingkat kematangan emosional, intelektual, moral, dan kemampuan sosial anak kita demi kesenangan sesaat (film yang menarik, obrolan gossip yang asik, berita yang sedang dibaca, dan lain sebagainya).....Inilah saatnya kita sebagai orang tua merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita sudah lebih sering mendengarkan anak....ataukah cerita mereka hanya terdengar sayup-sayup oleh kita? (ETP/WRM)

Dari berbagai sumber

Tuesday, March 20, 2007

Tips Memilih Nursing Bra (BH Untuk Menyusui)

Tuesday, 30 May 2006

oleh: Shrie


Nursing Bra atau BH menyusui adalah BH yang dirancang khusus untuk ibu yang sedang menyusui. Dirancang dengan kelepak (flap) yang bisa dibuka-tutup pada bagian mangkuk (cup) BH, memudahkan busui (ibu menyusui) bila akan menyusui bayinya. BH menyusui tidak wajib dipakai oleh busui, tetapi hanya bersifat sebagai alat bantu saja. Bila busui merasa tidak nyaman memakai BH menyusui ini, maka tidak ada pengaruhnya terhadap kuantitas atau kualitas ASI yang dikeluarkan.

Jika mom memutuskan untuk memakai bra menyusui pada saat menyusui si kecil, berikut tips memilih bra menyusui yang aku kutip dari Majalah parents Guide edisi Februari 2006 :

- Belilah BH menyusui di pertengahan atau akhir kehamilan, atau ketika BH yang mom gunakan selama hamil sudah tidak nyaman lagi.

- Belilah minimal dua buah BH, agar mom selalu mempunyai persediaan BH bersih.

- Jika susah menentukan ukuran BH dengan tepat, siapkan BH lebih dari dua, dengan ukuran mangkuk yang berbeda-beda. BH dengan ukuran mangkuk yang lebih besar dipakai saat payudara sedang penuh-penuhnya. BH dengan ukuran mangkuk paling kecil dipakai saat payudara dalam kondisi tidak terlalu penuh/bengkak.

- Pilih BH yang bisa menopang payudara dengan baik tapi masih punya cukup ruang di puncak mangkuk untuk menyisipkan bantalan ASI (nursing pads).

- Jika memilih BH yang berkelepak, carilah yang elastis dan kelepaknya mudah dibuka dengan satu tangan (biasanya dikaitkan dengan klip plastik ke tali bahu, atau ketengah BH).

- Jika memilih BH tanpa kelepak, carilah yang tali bahunya mudah diturun-naikkan dengan satu tangan (biasanya bertali lebar, terbuat dari bahan yang lembut, tipis dan elastis, serta tidak memakai kawat penopang. BH jenis ini lebih cocok dipakai di rumah.

- Jika ukuran payudara sangat besar, utamakan memilih BH yang mampu menopang payudara dengan baik. (Disarankan memilih BH dengan kawat penopang)

- Jika mom berencana memerah ASI dengan pompa, pilihlah BH yang bukaan kelepaknya cukup lebar agar corong pompa bisa menempel dengan baik pada payudara. (WRM/SA)

Sumber :
- Majalah Parents Guide
- Berbagai sumber